Senin, 12 Februari 2018 - 21:01:11

Anas Urbaningrum Bikin Surat Bantah Rancang Fitnah SBY

    Anggre Dwie Hits : 14209    

Cnnindonesia.com


Jakarta, RIAUAKSI.COM -- Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum membantah kabar yang menyebutkan ada pertemuan di L‎embaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, untuk menyeret Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pusaran kasus korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). 

Bantahan tersebut terungkap dari foto tulisan tangan yang diduga dibuat oleh Anas kemudian diunggah ke akun media sosial Twitter, @anasurbaningrum pada Sabtu (10/2). 

Mantan Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Mirwan Amir juga membenarkan bahwa tulisan tersebut merupakan hasil buah tangan terpidana perkara korupsi dan pencucian uang proye Pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang tersebut. 

"Saya juga baru lihat, kayaknya benar. Iya (tulisan Anas begitu)," kata Mirwan saat dikonfirmasi, Senin (12/2). 

Dalam suratnya, Anas menulis sebagai berikut:

"Awalnya saya geli dengar cerita ada tuduhan pertemuan di Sukamiskin untuk merancang fitnah kepada Pak SBY dan Mas Ibas. Tetapi karena menjadi berita luas, dagelan itu perlu diluruskan, karena bisa menyesatkan. Jelas bahwa tidak pernah ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, Mirwan Amir, dan Saan Mustofa. Terpikir untuk bikin pertemuan saja tidak pernah, tidak ada hujan besok tiba-tiba ada banjir hoax. Itu cerita hoax berasal dari surat hoax yang entah dibikin oleh siapa. Tapi jelas disebarkan oleh siapa saja. Mudah banget untuk membuktikan pertemuan itu fakta atau hoax. Ada CCTV, buku tamu, dan banyak warga yang bisa ditanya. Hoax kok dipercaya dan disebarkan. Lalu kemana kampanye anti hoax dan fitnah yang belum lama didelarasikan. Hoax juga disebarkan hampir bersamaan dengan narasi jihad untuk keadilan. Ada kontradiksi yang nyata diantara keduanya. Citra kekuasaan, ketenaran dan kekayaan boleh dicapai. Tapi caranya tidak mesti dengan menista orang lain dengan hoax dan tuduhan konspirasi fitnah. Keadilan mesti diperjuangkan dengan cara-cara yang sejalan dengan makna keadilan itu sendiri."

 

View image on Twitter


Tak Pernah Tuduh Anas 

Menyikapi surat tulisan tangan Anas itu, Kepala Divisi Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mempertanyakan sosok yang dituju Anas dalam surat tersebut. 

Menurutnya, SBY tidak pernah menuduh atau menyebutkan Firman dan Mirwan bertemu Anas sebelum persidangan untuk mengatur skenario memfitnah SBY. 

"Kami justru sedikit tertawa atas surat tersebut karena kami juga bingung surat itu ditujukan ke siapa sebenarnya," kata Ferdinand, Selasa (12/2).

Menurutnya, SBY hanya mengatakan menerima kabar bahwa ada pertemuan sebelum peristiwa dugaan fitnah itu muncul. Ia pun mengaku bertanya-tanya dengan sikap Anas yang merasa dituduh. 

"Anas seharusnya tak perlu berkomentar, karena nama yang bersangkutan tidak pernah disebut oleh SBY," ujar Ferdinand. 

Dia melanjutkan, surat ini menunjukkan bahwa Anas dan sejumlah pengikutnya seperti Gde Pasek dan Tridianto seperti orang yang terbawa perasaan. 

Menurutnya, Anas juga tidak mendapatkan masuk yang benar dari Gde Pasek dan Tridianto sehingga mengeluarkan surat pernyataan seperti itu. 

Dia menambahkan, jika ada informasi yang beredar bahwa fitnah terhadap SBY dirancang di Sukamiskin, itu pun tidak bisa diasosiasikan dengan Anas. 

"Mereka ini baper dan memberikan masukan yang tidak benar kepada Anas sehingga Anas bereaksi seperti itu," katanya. "Sukamiskin itu luas, bukan cuma Lapas Sukamiskin. Di Lapas juga banyak orang bukan cuma Anas, tapi kenapa Anas yang sewot dan baper?" tuturnya.


    Category : Nasional    
    Tags        :    
    Sumber  : Cnnindonesia.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Honda Jazz dan Civic Kuasai Segmen Hatchback

  Ekonomi Bisnis  




Investasi Migas di Indonesia Masih Kurang Menarik