Selasa, 13 Februari 2018 - 10:51:53

Cuaca Mendukung Penguatan Lebih Lanjut

    Michael B. Bara Hits : 6913    

CNBC Indonesia


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan kemarin seiring kebangkitan Wall Street dan bursa regional. Wall Street kembali menguat signifikan, sehingga bisa memberi angin segar bagi penguatan bursa Asia, termasuk Indonesia. 

IHSG ditutup menguat 0,28% ke 6.523,45 poin pada perdagangan awal pekan ini. Tujuh sektor saham ditutup naik, dipimpin oleh sektor agrikultur dan pertambangan yang menguat masing-masing sebesar 1,74% dan 1,69%. Sementara tiga sektor lainnya yaitu barang konsumsi (-0,53%), manufaktur (-0,6%), dan industri dasar (-1,45%%) ditutup melemah. 

Bursa diramaikan dengan pengumuman Astra Internasional yang resmi menjadi salah satu investor Go-Jek. Saham ASII sempat naik 1,22% ke titik tertinggi Rp 8.300, meskipun pada akhirnya ditutup flat

Transaksi berlangsung cukup semarak dengan nilai sebesar Rp 7,73 triliun. Sebanyak 253 saham ditutup menguat, 113 saham melemah, sementara 188 lainnya stagnan. 

Menguatnya bursa saham Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik dan regional. Indeks Shanghai naik 0,76%, Strait Times naik 0,23%, Kospi naik 0,91%, dan KLCI naik 0,57%. 

Sentimen positif bagi IHSG dan bursa Asia juga datang dari harga minyak yang kembali menguat setelah beberapa hari sebelumnya tertekan cukup dalam. Sampai dengan penutupan perdagangan kemarin, harga minyak mentah jenis light sweet naik 2,15% sementara brent naik 2,04%. 

Namun, penguatan harga minyak ini bisa jadi merupakan euforia sementara akibat penguatan bursa saham AS. Dari sisi fundamental, saat ini melimpahnya produksi masih akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.  

Produsen minyak di AS diketahui menambah 26 alat pengeboran baru pada minggu lalu, sehingga totalnya mencapai 791, di mana ini merupakan yang tertinggi sejak April 2015. Kencangnya produksi dari AS ini dikhawatirkan akan menganggu usaha pengendalian pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).  

Dari Wall Street, penguatan signifikan kembali terjadi. Dow Jones menguat 1,7% ke 24.601,27, S&P 500 naik 1,39% ke 2.656, dan Nasdaq bertambah 1,56% menjadi 6.981,96. 

Penguatan hari ini melanjutkan kenaikan yang terjadi akhir pekan lalu. Setelah terkoreksi dalam, harga aset di Wall Street menjadi lebih murah sehingga memicu aksi borong. 

Selain itu, sepertinya pelaku pasar sudah menyadari bahwa secara fundamental perekonomian Negeri Paman Sam justru sedang kuat-kuatnya. Kinerja emiten juga meyakinkan, apalagi didukung oleh pemotongan tarif pajak. Oleh karena itu, sebenarnya kepanikan pasar yang terjadi pekan lalu hanyalah sentimen psikologis semata yang sifatnya sementara. 

Investor AS juga bereaksi positif atas proposal anggaran negara yang diajukan Presiden Donald Trump. Total belanja dalam anggaran negara ini mencapai US$ 4,4 triliun (Rp 59.400 triliun) dengan anggaran infrastruktur mencapai US$ 200 miliar (Rp 2.700 triliun).  

Untuk perdagangan hari ini, penguatan Wall Street bisa menjadi energi bagi bursa Asia dan Indonesia. Bahkan investor boleh saja berharap kenaikan hari ini lebih dari kemarin, karena cuacanya sedang mendukung. 

Bursa Asia sepertinya perlu menyeimbangkan kembali defisitnya. Akibat koreksi dalam beberapa hari terakhir, indeks saham regional terkoreksi cukup dalam secara year to date(YtD) seperti Nikkei yang minus 6,07% atau Hang Seng yang negatif 1,54%. Ini merupakan saat yang tepat untuk mengurangi atau bahkan membalikkan catatan merah tersebut. 

Namun bagi Indonesia, “tabungan” YtD tersebut justru menjadi risiko yang bisa menahan laju penguatan atau bahkan menyeret IHSG ke zona negatif. IHSG masih menguat 2,64% secara YtD sehingga masih ada peluang bagi investor untuk melakukan ambil untung yang bisa menekan Indeks. 

Faktor lain yang bisa mempelambat IHSG adalah harga minyak. Setelah naik signifikan, harga si emas hitam cenderung bergerak mendatar hari ini. Sepertinya investor mulai memperhitungkan faktor fundamental, di mana produksi minyak sedang melimpah terutama di AS. 

US Energy Information Administration memperkirakan produksi minyak AS pada Maret akan naik 111.000 barel/hari dari bulan sebelumnya menjadi 6,76 juta barel/hari. Pada akhir 2018, produksi minyak AS akan mencapai 11 juta barel/hari. 

Hal lain yang patut diwaspadai investor adalah imbal hasil (yield) obligasi negara AS yang masih menunjukkan tren kenaikan. Yield obligasi negara AS tenor 10 tahun pada Senin malam waktu setempat naik ke 2,85% dari 2,83% pada akhir pekan. Ini merupakan titik tertinggi dalam empat tahun. Sementara dalam waktu yang sama, yield obligasi negara AS tenor 30 tahun naik dari 3,13% menjadi 3,14% yang merupakan pencapaian tertinggi dalam 11 bulan terakhir. 

Kenaikan yield obligasi biasanya mendorong minat investor untuk meninggalkan pasar saham. Hal ini yang menyebabkan koreksi dalam di pasar saham beberapa waktu terakhir. Oleh karena itu, potensi perpindahan dana ke pasar obligasi tetap perlu dicermati. 

Berikut perkembangan sejumlah indeks bursa saham utama:

Cuaca Mendukung Penguatan Lebih Lanjut 


Berikut perkembangan nilai tukar sejumlah mata uang utama:

Cuaca Mendukung Penguatan Lebih Lanjut 


Berikut perkembangan harga sejumlah komoditas:

Cuaca Mendukung Penguatan Lebih Lanjut 


Berikut perkembangan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN):

Cuaca Mendukung Penguatan Lebih Lanjut 


Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

Cuaca Mendukung Penguatan Lebih Lanjut Foto: Hidayat Setiaji

 


    Category : Ekonomi Bisnis    
    Tags        : #Ekonomi Bisnis    
    Sumber  : CNBC Indonesia


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     








      Terkini  



      Most Popular  



      Teknologi  




    Honda Jazz dan Civic Kuasai Segmen Hatchback

      Ekonomi Bisnis  




    Investasi Migas di Indonesia Masih Kurang Menarik