Rabu, 14 Februari 2018 - 08:03:43

PTPP Bidik Kontrak Baru Rp 49 T Tahun Ini

    Michael B. Bara Hits : 7489    

CNBC Indonesia


PT PP Tbk (PTPP) menargetkan kontrak baru sebesar Rp 49 triliun atau 20% lebih tinggi dari perolehan kontrak baru yang diraih selama 2017. Sepanjang tahun lalu perusahaan mengantongi jumlah kontrak baru sebesar Rp 41 triliun.

Hingga akhir Januari lalu perusahaan sudah membukukan kontrak baru sebesar Rp 2,3 triliun. Sehingga total kontrak yang dihadapi (order book) perusahaan hingga saat ini mencapai Rp 60,4 triliun.

Direktur Utama PT PP Tumiyana mengatakan perolehan kontrak ini terdiri dari kontrak dari induk usaha senilai Rp 929 miliar dan entitas anak lainnya senilai Rp 1,4 triliun.


Kontribusi terbesar kontrak baru di bulan Januari 2018 disumbangkan oleh PT PP Presisi Tbk (PPRE) senilai Rp 1 triliun," kata Tumiyana dalam siaran persnya, Selasa (13/2).

Kontribusi selanjutnya disumbangkan oleh PT PP Properti Tbk (PPRO) senilai Rp 200 miliar, PT PP Urban sseilai Rp 130 miliar dan PT PP Energi sebesar Rp 20 miliar. Sementara, induk usaha mengantongi kontrak senilai RP 523 mimliar dari proyek Gedung AEON Apartment Phase 2 (Struktur) dan proyek Infrastruktur Executive Port Merak sebesar Rp 406 miliar.

"Dengan target kontrak baru ini, PTPP akan memiliki total order book lebih dari Rp 100 riliun yang akan menjadi basis yang kuat bagi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, tidak hanya untuk 2018 namun juga untuk tahun-tahun berikutnya," kata dia.

Adapun untuk tahun ini perusahaan membidik laba bersih senilai Rp 2,1 triliun atau meningkat sekitar 22% dibandingkan dengan perkiraan realisasi sampai akhir 2017.


    Category : Ekonomi Bisnis    
    Tags        : #Ekonomi Bisnis    
    Sumber  : CNBC Indonesia


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     








      Terkini  



      Most Popular  



      Teknologi  




    Honda Jazz dan Civic Kuasai Segmen Hatchback

      Ekonomi Bisnis  




    Investasi Migas di Indonesia Masih Kurang Menarik