Rabu, 16 Mei 2018 - 14:40:43

5 Bom dalam 25 Jam

    Michael B. Bara Hits : 14977    

liputan6.com


Jakarta,Riauaksi.com-Iringan dua sepeda motor, jenis Supra dan Beat, melaju agak cepat menuju Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018) pagi. Begitu tiba di Gerbang Mapolrestabes, ledakan terjadi. 

Rekaman CCTV memperlihatkan beberapa orang yang berada di sekitar lokasi terpental. Serangan bom Mapolrestabes Surabayapagi itu menjadi ledakan kelima yang terjadi di Surabaya dalam 25 jam.

Sehari sebelumnya, empat ledakan lebih dulu terjadi. Tiga gereja menjadi sasaran plus satu unit rusunawa jadi lokasi perakitan bom yang gagal. Ledakan di Rusunawa di Wonocolo, Sidoarjo terjadi secara prematur, di tempat tinggal terduga teroris. 

Menurut Ali Fauzi, mantan anggota Jamaah Islamiyah, Surabaya bukan tempat baru bagi kelompok teror. Hanya saja, saat ini terjadi transformasi.

Dulu, kata Ali, Surabaya merupakan tempat mencetak pelaku teror. Begitu matang dan siap, mereka melakukan aksi di luar Kota Pahlawan.

"Tapi, akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan orang Surabaya yang bermain di Surabaya," kata Ali kepada Liputan6.com, Senin (14/5/2018).

Di sisi lain, aksi itu membuka membuka tabir sel-sel yang ada di Surabaya. Bagi Ali, kelompok yang bermain teror di Surabaya merupakan kelompok baru. Mereka mulai mencuat tahun 2010 ke atas.

Kemunculannya bersamaan dengan kehadiran Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS), yang sejatinya sudah babak belur dan terdesak di Suriah dan Irak.

Sofyan Tsauri punya pendapat senada. Mantan narapidana teroris kasus pelatihan militer di Aceh ini mengatakan pelaku teror di bom Surabaya merupakan deportan.

Mereka berencana berangkat ke Irak dan Suriah pada awal 2017 untuk bergabung dengan ISIS. Namun, perjalanan mereka terendus otoritas Turki dan kemudian dipulangkan ke Indonesia.

Menurut Sofyan, kondisi mereka berbeda dengan orang yang pernah merasakan tinggal bersama ISIS. "Kalau yang pernah ke ISIS akan bilang enggak enak, tapi mereka ini masih penasaran," katanya.

Di Indonesia, kelompok ISIS punya pola serangan yang berbeda dengan aksi teror sebelumnya. Bila sebelumnya aksi teror menyasar simbol Amerika atau penegak hukum, jaringan ISIS menargetkan warga sipil.

Menurut Sofyan, Surabaya dipilih sebagai tempat beraksi karena sel di sana lebih siap. Kota Pahlawan juga dianggap lebih punya celah.

"Enggak mungkin mereka serang Jakarta yang lagi siaga setelah kasus di Mako Brimob," kata Sofyan.


    Category : Nasional    
    Tags        : #nasional    
    Sumber  : liputan6.com


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     








      Terkini  



      Most Popular  



      Teknologi  




    Mitsubishi Xpander di Semester Pertama 2018 Rajai Wholesales Tanah Air

      Ekonomi Bisnis  




    BEI perbarui sistem perdagangan dengan JATS NextG