Jumat, 14 Juli 2017 - 22:22:49

Kassian Cephas: Tukang Foto yang Setara dengan Orang Belanda

    Michael B. Bara Hits : 12597    

tirto


Di sebelah timur Benteng Vredeburg Yogyakarta, dulu terdapat kawasan bernama Loji Kecil Wetan. Kawasan itu kini berada di sekitar Taman Pintar dan Jalan Suryotomo. Di situlah, pada pergantian abad ke-19 dan 20, seorang berdarah Jawa bernama Kassian Cephas tinggal. Di pergantian abad itu, usianya sudah 55 tahun.

Menurut Gerrit Knaap, dalam Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan (1999), lahir pada 15 Januari 1845 di Yogyakarta, yang merupakan daerah kerajaan dari Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Ia lahir saat Sultan Hamengkubuwono V masih bertahta. Laki-laki bernama asli Kassian ini adalah anak dari Kartodrono dan Minah. Nama Cephas menjadi nama belakangnya setelah ia dibaptis sebagai seorang Kristen “pada 27 Desember 1860, di usia 15 tahun” di Gereja Purworejo, di Bagelen.


“Dia salah satu dari dua laki-laki dan tiga perempuan murid dari Christina Petronella Phillips-Steven, yang berdakwah ajaran Protestan kepada orang Jawa di masa tersebut,” tulis Knapp.

Selain Kassian, di abad itu orang terkenal yang kemudian menganut Kristen adalah tokoh Kristen Jawa yang dikenal sebagai Kiai Sadrach. Laki-laki yang aslinya bernama Radin Abas dan dari keluarga Islam di Demak ini, menurut C. Guillot dalam Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa (1981), dibaptis pada “14 April 1867 [...] oleh Pendeta Ader di Portugeesche Buitenkerk” di Betawi. Setelah dibaptis di sana, Sadrach menuju Bagelen.


Di rumah Christina dan suaminya, Kassian menghabiskan masa bocahnya. Di awal dekade 1860an, Kassian kembali ke kota kelahirannya, dan di sana dia mulai magang kepada juru foto Simon Willem Camerik. Nama terakhir ini adalah milisi berpangkat Letnan Dua di Yogyakarta sekaligus fotografer.

“Kassian Cephas dilatih sebagai fotografer sejak 1861 hingga 1871 […] Dia mungkin ditunjuk sebagai pelukis istana dan fotografer (oleh Sultan) pada awal tahun 1871,” demikian Knapp mencatat.

Selain itu, Kassian juga belajar dari Isidore van Kinsbergen—seorang fotografer kelahiran Belgia yang bekerja di Jawa Tengah pada 1863-1875 dan pernah memotret Candi Borobudur. Di masa-masa tersebut, raja di Yogyakarta adalah Sultan Hamengkubuwana VI. Itu adalah zaman saat teknologi fotografi masih sangat rumit dan masih jadi barang mewah.

Di tengah masa magangnya, di sebuah gereja di Yogyakarta Kassian menikahi perempuan Kristen asal Tegal pada 22 Januari 1866, Dina Rakijah. Dari perkawinan itu lahir: Naomi (28 Juni 1866), Sem (15 Maret 1870), Fares (30 Januari 1872), dan Jozef (4 Juli 1881). Putra pertamanya, Sem, adalah orang yang dikenal sebagai asisten ayahnya ketika mengambil gambar.

Foto terkenal Cephas salah satunya Taman Sari (1884) untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Terkait dunia arkeologi, Cephas terlibat dalam pemotretan Candi Prambanan dan Borobudur. Dia adalah anggota dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dari 1896 hingga 1912. 

  • Baca: Perpustakaan Leiden, Jendela Indonesia di Belanda


Dia sempat memotret bagian Karmawibangga yang tersembunyi di Candi Borobudur. Sebagai fotografer Keraton, Cephas memotret kegiatan seni kraton seperti Tari Bedaya. Dia juga pernah ikut mengabadikan kunjungan Raja Siam Chulalongkorn yang berkunjung ke keraton. Dari Raja Siam, dia mendapat tiga kancing berhias batu permata. Untuk pengabadian kebudayaan Jawa, dia mendapat penghargaan Orde van Oranje-Nassau dari kerajaan Belanda. 

Kassian Cephas: Tukang Foto yang Setara dengan Orang Belanda



Di luar proyek-proyek tadi, tentu saja Cephas adalah tukang potret. Di masa Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana VII, hidup Kassian Cephas sebagai tukang potret masa silam cukup makmur. Harga foto tentu tak semurah permen.

Karena kemakmuran itu, Cephas pun mengajukan diri dan keluarganya untuk diproses Gelijkgesteld, agar status hukum mereka disamakan dengan orang-orang Belanda atau Eropa. Status hukum yang sama dengan orang Belanda itu tentunya bisa menguntungkan kedua anaknya jika masuk ke dalam kehidupan kolonial. Termasuk untuk memasukkan anak ke sekolah bermutu di zaman itu.


Staatsblad van Nederlandisch Indië (1891) pun mencatat nama Kassian Cephas bersama dua anaknya, Sem dan Feriz. Untuk proses itu, biasanya mereka harus membayar beberapa gulden. Orang pribumi Indonesia yang mengajukannya biasanya punya posisi penting di masyarakat. Cephas sendiri adalah seorang fotografer, profesi yang masih sangat langka di antara kaum pribumi.


    Category : Berita Pilihan    
    Tags        : #nasional    
    Sumber  : tirto


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Asus Luncurkan Zenfone 4 Max Pro dengan Baterai Kapasitas Jumbo

  Ekonomi Bisnis  




Langka dan Mahal, Disperindag Sidak Pedagang Gas 3 Kg di Pekanbaru