Kamis, 07 September 2017 - 13:26:51

FPI Siap Perang Terbuka dengan Myanmar Sebelum Pembantaian Muslim Rohingya Diakhiri

    Habibi Muthalib Hits : 11713    

Situsriau.com


JAKARTA,Riauaksi.com  - Front Pembela Islam (FPI) mengklaim 10.000 laskar siap berangkat ke Myanmar untuk membantu etnis Rohingya. Organisasi itu juga menyatakan perang terbuka terhadap negara tersebut.

"Sekarang kami dapatkan hari ini (kemarin) sudah hampir 10.000 dari posko pendaftaran kita yang sudah terdaftar di pusat dari tiap daerah. Kalau memang tidak bisa diberhentikan, kami akan siapkan 10.000 tersebut untuk berangkat," kata Juru Bicara FPI, Slamet Maarif di Jakarta, Rabu (6/9/17).

Slamet menjelaskan hal itu sudah ia sampaikan ke Wakil Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, Kyaw Soe Thien saat bertemu di sela aksi demonstrasi kemarin di Jakarta. Jika pemerintah Indonesia dan Myanmar tidak bisa menghentikan kekerasan pada etnis Rohingya, maka FPI menyatakan perang terbuka dengan Myanmar.

"Sekali lagi saya katakan, kalau pemerintah dan Myanmar tak bisa menghentikan pembantaian terhadap umat Islam di Rohingya, FPI akan mengatakan perang terbuka dengan Myanmar," katanya.

Sebelumnya, ia mengatakan, FPI membuka pendaftaran di sejumlah wilayah. Di Sumatera Utara, klaim Slamet, ada sekitar 1.200 pendaftar, Pasuruan, Jawa Timur 600 orang, dan Jakarta 287 orang.

FPI menetapkan empat syarat untuk pendaftaran relawan yakni mendapat izin orang tua, berusia di atas 20 tahun, memiliki kemampuan bela diri, dan terakhir menyatakan siap kemungkinan terburuk, meninggal di wilayah Rakhine, Myanmar.

Slamet mengatakan, pendaftaran gelombang pertama ditutup pada Rabu kemarin. Setelah ditutup, FPI akan memberangkatkan relawan gelombang pertama.

Dalam kesempatan yang sama, Pembina Presidium Alumni 212, Kapitra Ampera mengklaim sudah ada 1.000 orang relawan yang berhasil berangkat ke Myanmar. Relawan itu membawa obat-obatan dan uang sebanyak Rp10 miliar.

Ia mengatakan, uang itu didapat dari penggalangan dana umat. Sebagian uang dipakai untuk membeli selimut, pakaian, tenda dan alat yang dibutuhkan. Namun laskar yang ada di sana belum mendapat akses untuk masuk.

"Pemerintah Myanmar tidak membolehkan kita masuk ke dalam. Kalau bantuan kemanusiaan itu ditutup, maka kita akan mengirim pasukan perang untuk Myanmar," ucapnya.

Pengamat Hukum Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Jawahir Thontowi mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencegah warga Indonesia yang berniat pergi ke Myanmar untuk menjadi milisi membela etnis Rohingya.

Thontowi melihat telah bermunculan rencana aksi solidaritas untuk Rohingya yang mengatasnamakan sejumlah organisasi kemasyarakatan, komunitas, atau pun kelompok Muslim di Indonesia.

"Pemerintah harus kuat menutup peluang keberangkatan milisi dari kelompok-kelompok fundamentalis ke Myanmar," katanya.

Jawahir khawatir kehadiran milisi asal Indonesia di Myanmar justru makin membahayakan posisi etnis Rohingya yang mayoritas tinggal di Rakhine. "Saya khawatir Rakhine akan menjadi seperti Suriah atau Syiria," katanya.


    Category : Nasional    
    Tags        : #nasional    
    Sumber  : Situsriau.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Toyota Rilis New Etios Cross X-Edition, Tambahkan Sentuhan Crossover

  Ekonomi Bisnis  




Agustus, Penjualan Mobil di Indonesia Meningkat Jadi 96.461 Unit