Sabtu, 09 September 2017 - 09:40:53

Cerita Relawan Tentang Derita Muslim Rohingya di Kamp Pengungsian

    Habibi Muthalib Hits : 18241    

Fokusriau.com


JAKARTA,Riauaksi.com -Entah sudah berapa banyak rombongan pengungsi Muslim Rohingya tiba di perbatasan Bangladesh, untuk memperoleh perlindungan setelah kampung halaman mereka di Myanmar, terutama negara bagian Rakhine didera krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Sejak sepekan terakhir, saat dirinya tiba di kamp Kanzarpara, Chittagong, Rahadiansyah melihat langsung penderitaan etnis Rohingya yang selama ini menjadi target persekusi. "Sepanjang hari arus pengungsi terus berdatangan ke kamp ini. Rasa lelah tampak di mata para pengungsi yang baru saja datang," ujar Rahadiansyah, anggota organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui pernyataan tertulis, Jumat kemarin.

Bagaimana tidak, menurut Rahadiansyah, para pengungsi tersebut harus menyebrangi perbatasan dan sungai untuk sampai di perbatasan Bangladesh. Para pengungsi Rohingya juga mesti menyeberangi perbatasan selama belasan hari untuk sampai ke kamp Kanzarpara.

Kamp Kanzarpara menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi di sejumlah titik di perbatasan Bangladesh. Kamp tersebut berlokasi sekitar 3 kilometer dari sungai Naf yang terletak di antara perbatasan Bangladesh-Myanmar. 

Belum lagi, tuturnya, para pengungsi itu membawa serta anak-anak dan barang berharga mereka yang bisa mnjadi pegangan untuk bertahan hidup. "Dari kampung halaman mereka di Rakhine, para pengungsi harus berjalan dan menyeberangi Sungai Naf selama 12 hari untuk bisa ke sini. Bayangkan, 12 hari!" tutur Rahadiansyah.

"Anak-anak, dan bahkan di antara mereka ada bayi yang baru berusia 20 hari. Bayangkan, bayi tersebut harus ikut menyebrangi perbatasan selama belasan hari dan dalam kondisi musim hujan seperti saat ini," tambahnya.

Sejak akhir Agustus, Rahadiansyah bersama sejumlah relawan lain dan organisasinya telah mendistribusikan sejumlah bantuan darurat bagi ribuan Rohingya di kamp tersebut. Bantuan-bantuan tersebut termasuk kebutuhan pangan dan sandang seperti bahan makanan, minuman, pakaian, obat-obatan hingga kerudung bagi kaum wanita. 

"Meski sebagian pengungsi membawa baju bekal saat datang ke kamp ini, pakaian yang mereka bawa begitu lusuh dan kotor akibat terguyur hujan dan lumpur selama perjalanan ke sini. Pakaian jadi kebutuhan utama setelah makanan dan tempat tinggal," papar Rahadiansyah dikutip fokusriau.com dari cnnindonesia.

Rahadiansyah bahkan menuturkan, Kamis kemarin, ACT telah mengirimkan 5 truk pertama berisikan bantuan pangan dan logistik untuk kebutuhan para pengungsi. Sejak kriris kemanusian di Rakhine kembali mencuat pada 25 Agustus lalu, puluhan ribu  warga etnis Rohingya berbondong-bondong melarikan diri keluar Myanmar untuk menghindari kekerasan yang diduga dilakukan aparat keamanan negara itu terhadap mereka.

PBB memperkirakan, sedikitnya 123.000 warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan selama dua pekan terakhir ini. Sejumlah negara seperti Indonesia, Malaysia, Turki, dan Iran pun telah menyalurkan sejumlah bantuan bagi pemerintah Myanmar khususnya warga di Rakhine.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi bahkan telah bertolak ke Myanmar dan Bangladesh pada awal pekan ini untuk mendorong kedua negara menyelesaikan krisis kemanusian di Rakhine dan masalah pengungsi secara inklusif.

    Category : Nasional    
    Tags        : #nasional    
    Sumber  : Fokusriau.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Layar Full Screen OPPO F5 Berikan Pengalaman Visual Terbaik

  Ekonomi Bisnis  




Indonesia Sosialisasikan Sawit Lestari ke Warga Asing