Rabu, 22 November 2017 - 19:32:15

Sosmed Dinilai Buruk Bagi Kesehatan Mental Remaja Putri

    Anggre Dwie Hits : 16513    

Republika.co.id


Jakarta, Riauaksi.com - Saat ini menjadi seorang remaja berarti bergulat dengan bagaimana media sosial, dan menghabiskan waktu dengan layar smartphone dalam membentuk esensi dari identitas diri. Keduanya dapat berkaitan dengan emosional, dan mental penggunanya.

Dinamika tersebut cukup signifikan untuk mengurangi kesejahteraan emosional dan mental, namun asilnya masih belum jelas. Sebenarnya, para periset terlibat dalam perdebatan sengit terkait apa yang diperlukan untuk membuktikan hasil itu.

Satu studi baru-baru ini menemukan, menggunakan Facebook justru bisa membuat orang merasa lebih buruk. Studi lain tentang remaja, bagaimanapun, penggunaan teknologi digital moderat tidak secara intrinsik berbahaya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Clinical Psychological Sciencemenemukan, tingkatan waktu melihat layar mungkin terkait dengan peningkatan antara 2010 dan 2015, dalam gejala depresi, dan bunuh diri untuk remaja putri.

Penulis penelitian menganalisis hasil dua dataset survei sekolah menengah dan atas, dan hasilnya menunjukkan bahwa, remaja yang menghabiskan waktu berlebih menggunakan perangkat elektronik setiap hari, secara signifikan lebih cenderung melaporkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Mereka juga lebih cenderung memiliki setidaknya satu hasil yang berhubungan dengan bunuh diri, seperti melaporkan putus asa atau rencana untuk mencoba bunuh diri, daripada rekan-rekan mereka yang kurang dalam menghabiskan waktu untuk menggunakan perangkat elektronik.

Analisis rekan penulis juga menunjukkan adanya hubungan antara peningkatan media sosial, dan depresi. Dalam kasus keduanya, efek pada anak perempuan terlihat, tapi tidak benar-benar terjadi pada anak laki-laki, yang juga pernah mengalami peningkatan angka bunuh diri dan depresi.

"Pasti ada sesuatu yang terjadi dalam kesehatan mental remaja saat ini, dan dimulai sekitar tahun 2011 dan 2012," kata Jean Twenge, penulis utama studi ini dan profesor psikologi San Diego State University, dilansir dari laman Mashable.

Di samping itu, Amy Orben, seorang psikolog media sosial dan dosen perguruan tinggi di The Queens College di University of Oxford, menulis sebuah posting Medium yang mengkritik studi Twenge karena menggambarkan, "kesimpulan besar dengan implikasi luas dengan menggunakan tautan yang lemah dan tidak konsisten".

Dengan kata lain, ada kepanikan mengenai fakta penelitian Twenge mungkin menciptakan kepanikan moral, tentang peran media sosial dan layar dalam kehidupan remaja. Pengamat kasual mungkin tidak perduli dengan perdebatan ini, namun ini mengungkapkan tantangan untuk mengevaluasi potensi risiko yang sangat besar untuk memasang smartphone atau layar di setiap tangan remaja.

"Jika ini benar, itu akan memiliki implikasi besar," kata Orben pada temuan Twenge.

Ketidakpercayaan Orben, bagaimanapun, berasal dari pertanyaan tentang metodologi Twenge. Ia tidak percaya Twenge cukup mengesampingkan penjelasan alternatif untuk kenaikan depresi dan bunuh diri, mencatat penelitian tersebut tidak memasukkan ukuran untuk menilai tingkat stres siswa tentang masa depan.


    Category : Teknologi    
    Tags        :    
    Sumber  : Republika.co.id


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Perkuat Gopay, Gojek Caplok Kartuku, Midtrans dan Mapan

  Ekonomi Bisnis  




Rupiah Keok di Hadapan Yen dan Euro di November